Kolom  

Pesona Air Terjun Tukad Cepung di Bangli

Oleh Anton Setiawan

Air terjun Tukad Cepung, Banjar Penida Kelod, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli.
Bali adalah daerah tujuan wisata paling diminati oleh wisatawan dari seluruh dunia. Keindahan alam, keramahan masyarakat dan kekayaan seni budaya menjadi keunggulan pulau berpopulasi 4,5 juta jiwa itu. Bicara keindahan alam, ada banyak tempat wisata menarik di seluruh penjuru daerah berjuluk Pulau Dewata tersebut yang memikat hati wisatawan. Salah satunya adalah air terjun Tukad Cepung yang berada di Banjar Penida Kelod, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli.

Lokasi air terjun ini berada di dalam lingkungan Pura Dalam Penida Kelod. Akses menuju lokasi wisata yang telah mendunia ini tak sulit karena tepat di tepi jalan raya Tembuku yang selalu ramai dilewati kendaraan. Jika dari pusat kota Denpasar, Tukad Cepung dapat ditempuh dengan berkendara selama 1 jam 20 menit. Air terjun Tukad Cepung berdekatan dengan dua lokasi sejenis yaitu di Goa Raja dan Yeh Bulan serta desa wisata terbersih di dunia, Penglipuran.

Waktu terbaik mengunjungi air terjun Tukad Cepung adalah menjelang tengah hari, antara pukul 11.00 hingga 14.00 Wita. Sebab, daya tarik utama air terjun yang satu ini terletak pada perpaduan keindahan air yang jatuh ke lubang gua bagai tirai dan siraman cahaya matahari dari sela-sela pepohonan dan menghasilkan siluet garis-garis yang indah. Setelah memarkirkan kendaraan, kita akan disambut oleh papan nama bertuliskan “Welcome to Tukad Cepung Waterfall”.

Sebelum memasuki air terjun, kita wajib membayar retribusi sebesar Rp30.000 per orang dan tidak ada perbedaan harga antara pengunjung lokal atau wisatawan mancanegara. Selanjutnya kita akan berjalan kaki menyusuri jalan setapak beralas bata sejauh 200 meter. Jalan ini selalu terjaga kebersihannya. Tak sampai 5 menit, kita melanjutkan perjalanan menuruni puluhan anak tangga yang salah sisinya dibuatkan pegangan dari besi.

Sedikit melelahkan bagi yang tak terbiasa. Itulah sebabnya pada beberapa titik dibuatkan semacam tempat perhentian. Tak perlu khawatir akan kepanasan karena di kiri-kanan jalan sempit ini dirimbuni aneka pohon yang tumbuh alami sehingga membuat udara sekitar menjadi sejuk. Sekira 10 menit berjalan anak tangga berakhir pada sebuah jalan setapak menyusuri Tukad Cepung yang beraliran deras dan berair sangat jernih. Oh iya, tukad dalam bahasa setempat artinya adalah sungai atau kali.

Ada banyak pohon kelapa dan bambu di sisi kiri dan kanan membuat kita tidak kepanasan saat berjalan. Baru 5 menit melangkah, dari sisi kiri sayup-sayup telinga kita akan mendengar deru air seperti sebuah jeram. Itulah lokasi air terjun berada. Tapi tunggu dulu, perjalanan belum lagi berakhir lantaran kita mesti kembali menuruni puluhan anak tangga dari beton yang sedikit licin. Beruntung pengelola air terjun lagi-lagi membuatkan pegangan besi pada kedua sisi anak tangga.

Tepat di anak tangga terbawah yang menjadi titik akhir perjalanan menuju air terjun, kita langsung bertemu aliran sungai kecil berarus tenang setinggi sekira mata kaki orang dewasa. Jika ke arah kiri, kita akan bertemu dua air terjun kecil. Sedangkan tujuan utama kita ada di sebelah kanan menyusuri aliran sungai yang diapit oleh tebing batu menjulang tinggi.

Makin ke dalam, jalan berair ini mulai menyempit dan hanya cukup dilewati oleh satu orang dewasa saja. Karena itu, kita harus bergantian lewat jika berpapasan dengan orang lain di jalan unik ini. Sekadar catatan, sebaiknya pengunjung memakai sandal atau melepas alas kaki. Tak perlu khawatir jika lupa membawa sandal karena sebelum menyusuri jalan setapak yang menurun, ada beberapa warung menjual sandal jepit yang berguna ketika menyusuri jalan berair ini. Warung-warung ini tentu saja turut menjajakan aneka minuman dan makanan kecil bagi pengunjung.

Suara deru air terjun semakin nyata terdengar ketika kaki sudah melangkah selama sekitar 5 menit. Kita harus menaiki sebuah bukit kecil yang merupakan jalan masuk ke air terjun yang berada di sebuah gua. Pada bagian atas gua memiliki lubang sangat besar. Pada salah satu sisi yang menghadap ke pintu masuk gua inilah air terjun itu menyambut setiap pengunjung.

Airnya jatuh seperti tirai putih raksasa dan menghujam ke sebuah kolam yang dangkal, setinggi paha orang dewasa. Sinar matahari ikut menembus melewati dahan dan dedaunan menuju lubang besar itu seperti menyilang tepat menuju bawah gua. Lintasan sinar mentari yang membentuk siluet garis-garis dan jatuh tepat di depan tirai air terjun menciptakan keindahan tersendiri yang alami.

Keindahan seperti inilah yang kerap diburu oleh wisatawan untuk dijadikan latar berfoto. Mereka bahkan rela antri sampai 100 meter panjangnya hingga keluar dari mulut gua demi bergantian menunggu giliran berfoto, menarik bukan? Jika kita menjelajah ke platform mesin pencarian Google dengan kata kunci “Tukad Cepung Waterfall”, maka akan tersaji belasan ribu gambar bertema orang-orang dari seluruh dunia berfoto dengan latar tirai air raksasa Tukad Cepung dalam berbagai sudut pengambilan gambar.

Dulunya ada sebuah batu besar di dekat kolam air terjun dan kerap digunakan pengunjung untuk berfoto di atasnya. Namun, batuan tersebut terpaksa dihancurkan oleh pengelola lantaran membuat celaka pengunjung karena sering terjatuh dan luka-luka sebab permukaan batunya licin ditumbuhi lumut. Selain di dalam gua, lokasi foto dengan latar menarik lainnya terdapat di bukit kecil yang menjadi akses menuju gua karena di tempat ini sering ‘disiram’ oleh siluet sinar mentari yang menembus pepohonan dari atas bukit.

Menariknya, sebagian besar pengunjung adalah wisatawan asing yang terpukau oleh keindahan air terjun bagai tirai air raksasa berselaput siluet sinar matahari. Beberapa vlogger mancanegara juga sudah singgah dan membagikan pengalamannya di kanal YouTube mereka. Kalau berkunjung ke Bali, jangan lupa singgahi destinasi wisata air terjun Tukad Cepung ya. Selamat berwisata! *

Sumber: indonesia.go.id

 

Dapatkan kabar terbaru di Lokapalanews WhatsApp Channel.