Tragis dan Miris, Pusat Data Nasional Jebol

Anggota Komisi I DPR RI Nurul Arifin saat mengikuti Rapat Kerja Komisi I dengan Kemenkominfo dan BSSN, di Ruang Rapat Kerja Komisi I, DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (27/6). Foto: Jaka/vel.

Jakarta (Lokapalanews.com) – Anggota Komisi I DPR RI Nurul Arifin menyatakan pembobolan Pusat Data Nasional (PDN) oleh peretas adalah peristiwa yang tragis, miris, dan ironis. Pasalnya, PDN memiliki fungsi yang sangat strategis, yaitu melindungi kedaulatan data nasional dan melindungi data pribadi.

“Tapi semuanya di-hack dan kemudian semuanya tergopoh-gopoh (berbenah). What’s wrong with this?” ujar Nurul dalam Rapat Kerja Komisi I dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) dan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), di Ruang Rapat Kerja Komisi I, di Gedung Nusantara II, DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (27/6).

Selanjutnya, politisi Fraksi Partai Golkar itu juga menyoroti adanya permintaan uang tebusan sebesar 8 juta dolar AS atau Rp131 miliar, yang digadang-gadang agar dapat membuka file yang terenkripsi tersebut.

“Pertanyaannya siapa yang meminta tebusan? dan harus bayar kemana? Pelakunya siapa? pertanyaan berikutnya apakah pelakunya ada indikasi dari internal? Apakah mereka yang menjual teknologi karena teknologinya ingin dibeli? Atau pelakunya bisa jadi orang yang marah karena usaha judi onlinenya diganggu oleh bapak misalnya, apakah mereka yang marah?” katanya, dilansir Parlementaria.

Selebihnya, ia turut mempertanyakan pertanggungjawaban fasilitas data backup yang telah disediakan oleh PT Lintasarta maupun PT Telkom di PDN. “Apakah mereka atas ketidakmampuan mereka memenuhi service level agreement itu? Tanggung jawab mereka di mana? Pasti ada kontrak gitu ya. kemudian seberapa besar kerugian finansial dan non finansial dari perkara ini?” ujarnya. *621

Dapatkan kabar terbaru di Lokapalanews WhatsApp Channel.

Baca juga:  Disiapkan, Skema Perubahan Pandemi Jadi Endemi