Daerah  

Duta Karangasem Tampilkan “Cakepung” Teater Bertutur di PKB XLVI

Kesenian Cakepung yang tampil di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVI di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Selasa (9/7).

Denpasar (Lokapalanews.com) – Kalau saja menyaksikan kesenian Cakepung dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVI di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Selasa (9/7), pasti dapat merasakan tuak. Minuman minuman beralkohol yang merupakan hasil fermentas itu disajikan dengan menari penuh kegembiraan, sehingga tuak seakan menjadi bagian dari tari itu.

Di tengah pementasan, para penari itu menari sambil menyanyi membagikan kepada para penari, sehingga lagu atau vokalnya lebih lancar. Selain itu, penari juga membagikan kepada penonton yang ingin menikmati minuman has Bali Timur itu. Suasana pertunjukan menjadi lebih kreatif dan komunikatif.

Cakepung itu merupakan teater bertutur Bali yang bernuansa Sasak (Lombok), karena menggunakan sumber sastra berupa Lontar Monyeh dengan bahasa Sasak. Cekepung, kesenian khas Karangasem ini masih lestari hingga saat ini. Kali ini, Sanggar Seni Citta Wistara mengkemas dengan lebih kreatif.

Mesti dilakukan dengan posisi duduk dan berbaris di samping kanan dan kiri serta di bagian belakang mereka tetap menari dengan riang. Salah satu sebagai pembaca lontar dengan cara matembang dan seorang lagi sebagai dalang. Lalu, diiringi alat gamelan berupa suling, rebab dan dua penting.

Sementara penari lainnya, bertugas untuk menyanyi sambil menari-nari dengan penuh ekspresi. Terkadang, ada berperan sebagai tokoh dalam kisah yang ditembangkan itu. Beberapa penari itu, terkadang berdiri menari-nari sambil membawa bambu, seperti cerek tempat tuak. Cerek itu ditarikan melingkar dan menawarkan minum tuak.

Pementasan diawali dari adegan “Pengembak” dengan pupuh “leladrangan” yang hanya diiringi alunan suling. Lalu, “pengaksama” permohonan maaf kepada penonton dengan matembang sinom. Selanjutnya “pamungkah” dengan tembang sinom dan memulai Cakepung.

Pada adegan keempat, mengisahkan di Paseban Agung Patih, Raja, Winangcia, Galuh Liku dan Inak Rangda yang membicarakan Diah Winangsia dikucilkan. Dalam adegan ini metembang Semarandana (Jerbon Agung). Raden Una menuju pancuran di taman dengan pupuh Dangdang.

Kemudian Raden Una naik kuda dengan Kumambang jaran gading, Diah Winangsia di taman dengan pupuh kumambang baris kupu-kupu, Melempar mangga dengan pupuh Kumambang selempang pauk, dan Pernikahan Diah Winangsia dengan pupuh Jerbon Alit.

Pada adegan terakhir, rakyat bersenang-senamg dengan pupuh Sinom Seriung atau pelentung. Adegan ini sebagai bentuk pesta pernikahan Diah Winagsia dengan bersukacita. Dalam adegan pesta inilah, para penari membagikan tuak kepada penari lainnya, sehingga tuak seakan menjadi bagian dari pementasan Cakepung itu.

Bahkan, para penari membagikan pula kepada penonton, termasuk kepada wisatawan yang tengah asyik menonton kesenian tradisi itu. “Dalam pesta itulah muncul budaya makan bersama yang namanya “megibung”,” ungkap Penglingsir Cakepung, Ida Made Adi Putra yang juga berperan sebagai penembang.
Budaya ini, makin kuat di Lombok, dan kesenian Cakepung ini bagian dari akulturasi budaya Bali, Jawa dan Lombok.

Ida Made Adi Putra sebagai generasi ketiga Cekepung ini menjelaskan, terbentuknya kesenian Cakepung di Desa Budakeling Karangasem tidak lepas dari sejarah kemenangan Raja Karangasem melawan kerajaan di Lombok.

Raja Karangasem berkuasa di Lombok dan ingin membawa seni Sasakan atau Cakepung ke Karangasem. Untuk mewujudkan keinginannya, Raja Karangasem mengajak seniman Karangasem yang berasal dari Budakeling sebanyak tiga orang berangkat ke Lombok.

Seniman itu, adalah Ida Wayan Oka Tangi, Ida Made Putu, dan Ida Ketut Rai yang memiliki tugas masing-masing. Ida Wayan Oka Tangi bertugas mempelajari lontar Monyeh beserta pupuhnya, Ida Made Putu mempelajari sesulingannya dan Ida Ketut Rai mempelajari rebabnya.

Ketiga seniman tersebut berhasil menguasai kesenian tesebut dengan mahir. Karena bahasanya dominan menggunakan bahasa Sasak dan kesenian tersebut berasal dari Lombok maka disebut kesenian Sasakan.

Ketiga seniman ini memiliki kemampuan pada bidangnya masing-masing. Kemampuan berpupuh dari Ida Wayan Oka tidak ada yang menandingi.

Begitu pula dengan kemampuan saudaranya dalam memainkan suling dan rebab. Pupuh yang digunakan dalam seni Sasakan menggunakan pupuh macepat, serta sulingnya.

Suling pada kesenian Sasakan disebut “Sesulingan Ladrangan”, suling yang mempunyai lima lubang. Setelah mahir ketiga seniman tersebut kembali ke Karangasem dan mengembangkan “Sasakan” di Karangasem.

“Dalam perkembangannya seni Sasakan di Karangasem dipandang monotun, sehingga dimodifikasi oleh para leluhur kami,” sebutnya.

“Orang tua kami kemudian mengisi dengan lagu-lagu, sehingga tidak terkesan monoton. Caranya, dengan memasukan melodi yang ritmis dengan menirukan suara-suara gamelan, suara benda dan suara perang,” terang Ida Made Adi Putra.

Setelah dimodifikasi kesenian Sasakan tersebut namanya menjadi kesenian Cakepung, sehingga cikal bakal kesenian Cakepung merupakan seni Sasakan dari Lombok.

Bedanya dengan Sasakan Lombok, cakepung memiliki pengecek, sehingga dalam pementasannya sangat gembira. Berbeda dengan Sasakan yang hanya sebatas membaca macepat tanpa pengecek.

Kesenian Cakepung dalam perkembangannya memiliki fungsi strategis. Salah satu fungsi kesenian Cakepung di Desa Budakeling digunakan sebagai media penanaman rasa kebersamaan, karena sering ditampilkan dalam acara yadnya masyarakat Budakeling.

Setiap masyarakat Desa Budakeling memiliki upacara yadnya baik Dewa yadnya, Manusa yadnya, Pitra Yadnya, maka para seniman Cakepung datang dengan sukarela tanpa harus diundang. Apabila ada upacara yadnya rasa kebersamaan sangat terlihat. Sehabis pertunjukkan biasanya diikuti dengan acara makan bersama secara kekeluargaan. *R234

Dapatkan kabar terbaru di Lokapalanews WhatsApp Channel.